Tuesday, May 27, 2008

Medan

Berangkat
Aku kemaren liburan ke Medan. Ke rumah Opa Sutar dan Oma Anna. Kami bertujuh. Aku, Mama, Papa, Aby, Teh Endes, Kakak Farah dan Kakak Adek. Kami berangkat tanggal 10 Mei jam 12.40 naik Lion Air. Tumben pesawatnya tidak begitu telat. Biasanya selalu telat. Sungguh pesawat yang aneh...

Dari Bandung, kami naik bis Primajasa ke bandara Sukarno-Hatta. Lumayan juga perjalanannya. Dan aku tidak mabuk. Di bandara kami makan siang dulu. Biar tidak masuk angin kata Mama. Sepanjang jalan Aby cerewet sekali, nggak mau diem. Semuanya dikomentarin.

Sampai di Medan sudah sore. Yang jemput di bandara Om Egik. Om Egik dulu kuliah di Bandung. Oh ya, bandara di Medan namanya Polonia. Besarnya hampir seperti Ngurah Rai di Bali. Suasananya juga hampir sama. Bandaranya hampir ditengah kota Medan.

Rumah Opa tidak jauh dari bandara. Kira-kira 10 menit kami sudah sampai. Rumah Opa besar sekali. Halamannya luas sekali. Kata Papa, ini rumah tua. Dibuatnya mungkin pada jaman Belanda. Pintu dan jendelanya juga aneh. Besar dan ada besi-besinya. Halamannya ada yang rumput dan ada jalan yang diaspal. Aby langsung main mobilannya Rafi ngelewatin jalan itu. Oh ya hampir lupa, Rafi anak Om Egik. Usianya masih 2 tahun. Tidak mau diam, senengnya lari ke sana kemari. Kata Oma, Rafi nggak bisa jalan pelan, selalu lari.

Di rumah Opa juga ada Tante Elis (bundanya Rafi), Tante Nia (adiknya Om Egik), Om Rido sama Om Reza. Om Rido udah kuliah, sedangkan Tante Nia dan Om Reza masih SMU.

Brastagi
Besoknya kami jalan-jalan ke Brastagi. Udara Brastagi dingin, seperti Lembang. Tapi sepertinya sih lebih dingin Brastagi. Kata Papa dan Mama juga begitu. Jalan ke sana nanjak dan berkelok-kelok. Dikiri kanan jalan masih banyak hutan lebat. Opa nyetirnya ngebut. Aku sempet pusing pusing dan mual. Untung kami segera beristirahat di SPBU.

Monday, May 5, 2008

Les Gitar

Mulai minggu ini, setiap Senin, aku sudah mulai belajar gitar. Aku belajarnya di Music Box yang punya Purwacaraka. Tempatnya keren, di jalan Bungur. Deket dengan Paris Van Java. Setiap harinya hanya belajar 30 menit saja. Mungkin biar nggak bosen kali ya...